Hati Seorang Utusan Allah

. Hits: 61

 Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 26 Juli 2020 - Oleh Pdt. Bambang Tri Susilo

 

Maleakhi 4:1-2, “Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka. Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.”

 

Maleakhi artinya utusan. Bagaimana hati seorang utusan ketika hatinya diterangi oleh surya kebenaran. Orang yang takut akan Tuhan, yang dipimpin Tuhan, ada sukacita, kebebasan, kemenangan. Di sisi lain, di ayat 1, seorang utusan Tuhan melihat realita kehidupan rohani bangsanya, sangat menyedihkan. Perjalanan kerohanian bangsa Israel semakin lama semakin menurun. Peristiwa ini membuat kita berkaca, kita harus mawas diri.

 

Apa saja yang membuat mereka menuju kefasikan?

 

1.     Maleakhi 1:2, mereka ragu terhadap janji Tuhan. Bicara soal “Yakub yang Kupilih”, bicara tentang perjanjian. Karena realita masih hidup dalam pembuangan, mereka meragukan janji Tuhan. Jangan ragukan Tuhan, karena tidak ada satu pun janji-Nya yang tidak digenapi. Hal-hal yang tertulis di masa lalu menjadi cermin agar kita bisa berkaca, dan bisa menata masa depan kita.

 

2.     Maleakhi 1:6-14, tugas seorang Imam adalah membawakan roti yang tidak cemar. Puncak persembahan yang sesungguhnya memang bukan materi. Roma 12:1, puncak dari semua yang kita persembahkan kepada Tuhan adalah kehidupan kita. Bagaimana kita bisa mempersembahkan kehidupan yang seutuhnya kalau yang Tuhan titipkan, justru kita tidak dapat memberi.

 

3.     Maleakhi 3:7, sebetulnya mereka tahu cara kembali. Tetapi meskipun mereka tahu kebenaran ini, mereka tetap bertanya.  Mungkin kita berada di luar Tuhan dan mulai mencari petunjuk-petunjuk lain, sedang mencari cara-cara lain, kembalilah ke jalan Tuhan dan kebenaran firman-Nya. Bagaimana hati seorang utusan Tuhan yang mencari petunjuk lain dan meninggalkan firman Tuhan? Inilah yang dilihat Maleakhi. Hiduplah sesuai dengan petunjuk dan jalan Tuhan, jangan menghalalkan segala cara. Tuhan tahu bagaimana mengangkat tinggi, tetapi Tuhan juga tahu cara merendahkan.

 

4.     Maleakhi 3:13-14 (FAYH), puncak jalan menuju kefasikan adalah fasik. Berkata “Aku tidak butuh Tuhan, aku sanggup, karena kekuatanku aku mampu”. Maleakhi 4:2, bagi yang sedang dalam pergumulan, akan ada kebebasan. Kegelapan akan diusir surya kebenaran yang bersinar.

 

Saat pergi dari dunia ini, kita akan meninggalkan semuanya. Tetapi ciri orang yang taat pada Tuhan adalah tetap setia.

 

Amin.