on on Hits: 15

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 6 Juni 2021 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak pernah menyesali panggilannya. Roma 11:29, “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.Hidup ini memang tetap hadapi masalah meskipun kita adalah umat pilihan Tuhan. Kejadian 37:6, 9, Yusuf punya banyak saudara. Saat mereka bertumbuh besar, Yusuf menerima impian dari Tuhan. Itu sebabnya Yusuf memandang ke atas. Kejadian 37:23,24, Yusuf terima visi dari Tuhan, tetapi saat jalani impiannya, ia mengerjakan rutinitas dengan tanggung jawab. Namun, hasilnya tidak mengenakkan, saudaranya membuatnya turun ke dalam sumur.

on on Hits: 38

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 30 Mei 2021 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Tuhan tetap turut bekerja dalam segala perkara. Berapa banyak kali kita berpikir semua yang terjadi dalam dunia itu hanya urusan kita, tanggung jawab kita. Benar itu adalah tanggung jawab kita. Tapi lebih daripada kita yang terbatas, bukankah kita ini adalah umat ciptaan Tuhan dan Tuhan bertanggung jawab. Ketika Tuhan ciptakan kita, kita lahir dan hidup di dunia, itu bukan 100% tanggung jawab kita, Tuhan tetap bertanggung jawab atas hidup kita. Jalani hidup dengan bertanggung jawab dalam kasih karunia-Nya.

Mazmur 119:57 - Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu. Mazmur 16:5 - Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

on on Hits: 26

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 23 Mei 2021 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Matius 3:11, “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.” Manusia bisa membaptis dengan air, tetapi Yesus sendiri yang membaptis dengan Roh Kudus. Kepenuhan Roh Kudus ada ketika kita percaya Yesuslah yang membaptis dengan Roh Kudus. Markus 1:8, ketika kita percaya, kita ijinkan Roh Kudus berdiam, Yesus akan penuhkan sehingga kita tenggelam di dalam Roh-Nya. 

on on Hits: 22

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 16 Mei 2021 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Ibrani 6:19-20 [Indonesian Modern Bible] - Pengharapan yang kita miliki itu seperti jangkar yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang menjangkau masuk sampai ke balik tirai Ruang Mahakudus, di mana YESUS telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Dia menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek.

Ketika Yesus naik ke sorga, Ia duduk di sebelah kanan tahta Allah, Ia menjadi Pensyafaat kita, mendoakan kita. Pengharapan kita kepada Tuhan Yesus seperti jangkar bagi kita. Jangkar selalu terhubung dengan kapalnya. Kita adalah subyeknya, kita mengalami keuntungannya, jangkar yang kuat dan aman yang menjangkau sampai Ruang Mahakudus. Setiap kita punya kepastian, Yesus yang merintis bagi kita. Ia menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Kita boleh saja mengalami fakta yang buruk, tapi ingat, Tuhan adalah Jaminan kita.

on on Hits: 59

Ringkasan Khotbah Minggu, 9 Mei 2021 Oleh Pdm. Yohanes Budi

Kejadian 22:13, 14, “Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Tuhan mengijinkan Abraham mengalami ujian. Allah ingin ketaatan yang Abraham kerjakan penuh hingga akhir, tidak setengah-setengah. Untuk mempersembahkan Ishak, Abraham menyiapkan semuanya. Mereka menempuh 3 hari perjalanan. Ini bukan hal mudah. Tapi Tuhan ingin Abraham lebih mengutamakan Tuhan, dibanding anaknya. Untuk Abraham yang berumur lebih dari 100 tahun, berjalan 3 hari di gunung, butuh usaha keras. Dia melakukan dengan sungguh-sungguh dan Allah bertanggung jawab menggantikan korban. Abraham cukup melakukan bagiannya, taat melakukan perintah Tuhan sepenuhnya.

Saat ujian sedang datang, sikap apa yang harusnya kita miliki?

Pesan Gembala

Ps. Andrew M. Assa

Tahun Gandum dan Anggur. 

Kita baru saja melewati tahun 2020 dalam kondisi di tengah Pandemi Covid 19 yang masih belum mereda.  Hampir seluruh bagian kehidupan umat manusia terkena imbasnya dan alami masa yang sukar.  Majalah TIME bahkan dalam edisi terakhir menuliskan di sampulnya, “2020 the worst year ever”.  Hal yang sama juga dialami oleh kita umat Tuhan, bisa saja keluar ungkapan dari mulut ini, sebagaimana tertulis dalam  Mazmur 4:7a Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?"   Apakah ini membuat kita putus asa dan kehilangan harapan?  Saat kenyataan hidup mengecewakan, masih ada Firman Allah yang membangkitkan iman.  Firman Allah sanggup mengadakan dari tidak ada menjadi ada.

Bukankah kalau sampai saat ini kita masih ada, itu semua karena kemurahan Tuhan.  Bisa saja kondisi faktual nampaknya “semakin buruk” tetapi apakah kondisi spiritual kita dan kedewasaan rohani kita juga “semakin buruk”?  Dapatkah kita melihat, bahwa justru di saat seperti ini kita makin bergantung dan mengandalkan Tuhan.  Dan saat kita benar-benar andalkan DIA, tidak akan DIA abaikan, serta DIA tak pedulikan kita.   

“Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!”  (ay.7b) ini adalah permohonan dari pemazmur.  Dan keyakinannya terhadap Allah digambarkan dalam:

“Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.” (ay.8)

Ketika kita harus lewati “Tahun Gandum dan anggur”  bukan berarti hidup itu tanpa masalah, tetapi sebagaimana yang dialami pemazmur, kenyataan yang sama dialami oleh umat Allah yang dituliskan dalam Zakharia 9.

Tuhan berjanji  dan bersungguh-sungguh akan memulihkan, dan janjiNya itu dimeteraikan dengan darah perjanjian-Nya sendiri (Zak. 9:11).  Tuhan akan membalikkan keadaan, bahkan berkat dua kali ganda DIA janjikan (ay.12).

Adakah kita masih menanti-nantikan DIA atau justru kita menanti-nantikan hal yang lain.  Nabi Yesaya pernah menuliskan,  Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian.   Nubuatan nabi Yesaya inilah yang dikutip oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 2:9.

Pertanyaannya sekarang, masih percayakah kita kepada Tudan dan FirmanNya?  Atau kita mulai apatis serta menyerah pada keadaan.  Ganti menyerah pada situasi kondisi, menyerah saja kepada Allah yang hidup.  Raja Yosafat pernah hampir menyerah pada keadaan,   “Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu."  Tapi Yosafat ambil pilihan, menyerah hanya pada Allah saja.

Kabar baiknya, kita mungkin tidak tahu bagaimana cara Allah untuk menjawab doa kita dan memulihkan semua ini, tetapi satu kepastian kita adalah kawanan domba umatNya.  DIA tahu cara terbaik menyelamatkan kita (Zak. 9:16)  dan hasilnya sudah tertulis dan dinubuatkan “Sungguh, alangkah baiknya itu dan alangkah indahnya! Teruna bertumbuh pesat karena gandum, dan anak dara karena anggur.”  Zakharia 9:17.  

Bila Firman Allah ini tinggal dalam kita dan menguasai roh, jiwa, tubuh kita (sebagaimana Maria berkata: jadilah padaku seperti perkataanMU) maka kita akan melihat dan alami penggenapannya.   

Roma 9:28 Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera."

 

Rhema Hari Ini

Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Yohanes 17:17

Firman Tuhan menganugerahkan kekudusan, kita dibawa kepada kesempurnaan di dalam Yesus.