Dibawa Ke Level Yang Sama Dengan Tuhan

. Hits: 69

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 2 Agustus 2020 – Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Ketika kita percaya pada firman-Nya, kita sedang diangkat ke levelnya Allah. Seekor rajawali akan aman di tempat yang tinggi, rajawali bukan aman ketika dia bertengger di bawah. Kita adalah rajawali.

Keluaran 19:4-6 – [19:4] Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.

[19:5] Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. [19:6] Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus....

Ketika kita kembangkan sayap rajawali, kita dibawa naik terbang tinggi, Tuhan sedang membawa kita kepada-Nya. Kalau kita hanya di muka bumi, kita hanya melihat situasinya. Keluaran pasal 19 ada sebelum Keluaran pasal 20 (Hukum Taurat). Tuhan berfirman secara langsung melalui Musa. Ketika mereka percaya firman, berpegang pada firman, mereka akan menjadi harta kesayangan Tuhan, imam yang berkerajaan dan bangsa yang kudus. 1 Petrus 2:9-10, kita tadinya bukan umat pilihan Allah, kita menjadi umat pilihan-Nya karena kita diangkat ke posisi satu level dengan Allah karena korban Yesus di salib.

Ketika Allah menunjukkan belas kasihan-Nya lewat Yesus yang mati tersalib, respon kita bagaimana? Roma 5:1-2. Kita dibenarkan karena iman, bukan karena tindakan kita. Saat kita alami kelahiran baru, kita diangkat ke posisi berdamai dengan Allah, kita menikmati damai sejahtera. Inilah posisi satu level dengan Allah, sehingga kita bisa melihat segala sesuatu dari posisinya Tuhan. Bukan berarti ketika kita ada satu level dengan Allah kemudian tidak ada masalah. Namun Tuhan tegaskan dalam Ibrani 13:5, Ia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita. Ketika kita percaya kepada firman, maka firman yang tinggal dalam hidup kita akan bisa membawa kita ke pengalaman ilahi (Yesaya 60:2). Yang mana yang kita responi, firman atau fakta? Kita masih di dunia, tapi kita tidak berasal dari dunia, roh kita berasal dari Allah. Oleh karena firman, dunia dijadikan, maka firman lebih berkuasa daripada fakta. Fakta akan mengalami penurunan, tapi firman tinggal tetap.

Bukti: Kejadian 37:5,9. Yusuf menerima impian. Kata “bermimpi” dalam bahasa Ibrani menggunakan kata chalam. Chalam memang di sebagian besar Perjanjian Lama diartikan dengan mimpi. Dua kali Yusuf terima impian dari sorga. Ia ditakuti kakak-kakaknya bukan karena postur tubuhnya, tapi karena mimpinya. Ketika kita terima impian/visi/firman dari Tuhan, firman akan menggentarkan banyak orang. Kata chalam yang ditulis dalam Yesaya 38:16 - ... buatlah aku sehat [chalam], buatlah aku sembuh! Yusuf terima impian (pewahyuan, chalam) dari Allah dan dia terima kesehatan. Tapi, apakah kemudian hidupnya baik-baik saja? Tidak, dua kali ia terima impian dari Tuhan, justru impiannya membuat dia dibuang oleh kakak-kakaknya ke sumur tua dan dijual ke pedagang Midian lalu dibawa ke Mesir menjadi budak. Kisah Para Rasul 26:19, 22. Rasul Paulus juga mengalaminya. Walaupun gara-gara penglihatan dari sorga itu membuatnya seperti disengsarakan, ketika ia mau taat, oleh pertolongan Allah ia tetap bisa jalankan tanggung jawabnya. Ketika kita suka mendengar firman, percaya firman, bukan berarti hidup bebas dari masalah.

Kejadian 39:1,2. Yusuf dibeli oleh Potifar. Walaupun rasanya tidak ada pembelaan, Tuhan menyertai hidupnya sehingga apapun yang dikerjakan, Tuhan buat berhasil. Apakah tidak ada godaan? Ada, Yusuf dicobai oleh istri Potifar, tapi firman (impian dari sorga) itu menjaga kehidupannya sehingga ia punya satu sikap menaati firman (Kejadian 39:9). Kejadian 39:19-21, ketika Yusuf taat pada penglihatan dari sorga, maka ada pertolongan Tuhan yang tetap menjaga, menyertainya. Pola pikir Kerajaan Sorga yang membuat Yusuf bisa melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah.

Kejadian 50:20. Kenapa Yusuf bisa bertahan? Karena ia melihat penglihatan dari sorga sehingga ketika ia alami masalah-masalah di dunia ini, dia bisa berkata memang orang bisa mereka-rekakan yang jahat, tapi Allah mereka-rekakan kebaikan.

Mazmur 56:5 - kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Mazmur 56:11,12. Ketika kita percaya kepada firman, kita sedang dibawa naik ke posisi Allah, kita bisa melihat situasinya, tapi Allah belum menyerah, Allah mau bekerja untuk hidup kita.

Amin.