Aman Dalam Kasih Bapa

. Hits: 77

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 9 Agustus 2020 – Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Kalau kita masih ada, ini adalah bukti kesetiaan Tuhan. Bapa kita adalah Bapa yang setia. Percaya pada Bapa yang memberikan kesempatan pada kita. Ibrani 4:16, “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Yesus sudah memberikan jalan untuk pendamaian. Ibrani 4:14, Imam Besar kita bukan keturunan Harun, yang harus membawa darah lembu jantan, tetapi Dia bawa darah-Nya sendiri.

Dia adalah Bapa yang setia, bukan bapa pendusta. Allah selalu memberikan yang terbaik. Percayalah pada hati-Nya.

2 Tesalonika 2:16, ”Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita,” Bapa memberikan penghiburan dan pengharapan. Tuhan mau menguatkan hati. 2 Tesalonika 2:17, “kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik.” percaya pada perkataan yang baik. Seringkali kita lebih percaya pada perkataan iblis yang mengganggu lewat pikiran kita. Firman Allah membuat kita melihat dari levelnya Tuhan. Isi terus dengan firman, maka tidak ada lagi tempat untuk manusia lama kita.

Ulangan 21:18,21, ini hukum Taurat tentang anak yang tidak menurut pada orang tuanya dan harus dilempari batu. Taurat menuntut kekudusan. Seperti cerita si bungsu yang minta harta warisan sebelum ayahnya mati. Tetapi ayahnya tidak melaporkan pada seisi kota dan tetap memberikan warisannya. Lukas 15:17, yang diingat anak bungsu itu adalah kekayaan bapanya. Kabar baiknya, kasih ayahnya begitu melekat, sekalipun dia menyadari keadaannya. Seperti kita, sudahkah kasih Bapa yang lebih melekat dalam hati kita? Lukas 15:20, selama ini ketika jauh, ayahnya tetap menantikan. Allah menantikan kembalinya kita. “Ayahnya itu berlari mendapatkan dia”, yang salah anak, tetapi ayahnya yang berlari. Seharusnya anak yang minta maaf. Ada Bapa yang berlari mendapatkan kita. Dia yang berinisiatif untuk berdamai dengan kita. Lukas 15:21, si bungsu menyadari kesalahannya. Lukas 15:22, jubah bicara tentang kebenaran, Yesaya 54:17. Bungsu juga dipakaikan cincin, ini bicara tentang hak sebagai anak. Ia juga dipakaikan sepatu, seorang anak memakai sepatu, tapi hamba tidak, ini artinya statusnya sebagai anak dipulihkan. Bila kita percaya si pendusta, kita hanya bisa mengamati dari jauh karena merasa tidak layak.

Yudas 1:24, “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,” Tuhan sedang bawa kita tak bernoda dan penuh sukacita dihadapanNya. 1 Petrus 1:5, “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” Kalau kita ada, kalau kita terpelihara, semua karena kekuatan Allah. 1 Korintus 1:8, “Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.”, Tuhan ingin menguatkan hati kita dalam pekerjaan dan perkataan yang baik. Percayalah kepada hati Bapa. Kalau kita masih mendengarkan firman Allah, semua karena Allah ingin pulihkan dan jaga hidup kita. Supaya kita dapat menikmati semua yang sudah Allah sediakan.

Amin.