Iman Yang Sejati

. Hits: 84

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 27 Desember 2020 Oleh Pdp. Oldy I. Kawuwung

Firman yang telah menjelma menjadi manusia menjadi bagian dalam hidup kita. Firman itu menopang hidup kita, memberikan kehidupan. Manusia hidup bukan hanya sekedar dari apa yang kita makan, tetapi dari setiap kebenaran yang keluar dari mulut Allah.

Daniel 3:17-18, Hananya, Misael, dan Azarya adalah orang Israel yang dibawa menjadi tawanan di Babel bersama dengan Daniel. Sesampainya di Babel, nama mereka diganti oleh orang Babel, menjadi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Meskipun nama mereka berubah, tetapi mereka tetap memelihara iman dan komitmen mereka kepada Allah. Firman yang selama ini mereka terima, membuat mereka tetap kuat dan tidak menyerah menghadapi ancaman.

Daniel 3:4-6, orang dari bangsa mana pun diharuskan untuk menyembah patung yang didirikan raja Nebukadnezar, saat mendengar gambus, kecapi, dan rebana yang dibunyikan. Ini adalah kehendak raja yang menjadi hukum, yang tidak boleh dilanggar. Seperti masa saat ini, dalam dunia bisnis, ada banyak aturan yang harus ditaati.

Daniel 3:16-18,  “Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." Ini merupakan pengakuan iman dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Mereka berkomitmen untuk tidak menyembah patung yang didirikan Nebukadnezar. Beranikah kita berkata demikian untuk suatu hal yang menguntungkan tetapi menyangkal iman kita? Atau terhadap pasangan yang tidak seiman? Pornografi? Narkoba? Saat berada di dalam gereja, kita bisa menolak. Tetapi saat ada di lingkungan luar, apakah kita bisa memutuskan hal yang sama? Contoh Sadrakh, Mesakh, Abednego. Meski pun lingkungan mereka menyembah patung, tetapi mereka berani menolak dan meyakini Allah lebih besar dari segala sesuatu.

Daniel 3:19, kemarahan Nebukadnezar pun muncul dan memerintahkan pegawainya untuk memanaskan dapur api tujuh kali. Daniel 3:20, Sadrakh, Mesakh, Abednego menerima konsekuensi atas penolakan mereka menyembah patung. Mereka dimasukkan dalam perapian dengan keadaan terikat, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Daniel 3:24-26, yang terbakar hanya ikatannya, tubuh dan pakaian mereka tidak terbakar, bahkan bau hangus pun tidak mereka cium. Tuhan tidak pernah tinggalkan, saat kita berkata tidak pada dosa. Firman Tuhan katakan Aku tidak akan meninggalkan engkau , Aku tidak akan membiarkan engkau, apapun situasi yang sedang engkau alami. Tuhan tetap menyertai dan melindungi kita. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak dipermalukan, kebenaran iman berbicara kepada mereka dan membuat mereka tidak terbakar oleh api. Api mungkin sedang ada dalam hidup kita, tapi saat kita beriman kepada firman-Nya, kebenaran iman itu akan berbicara juga pada kita.

Roma 10:10-11, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." Bagi setiap kita yang percaya dan mengakui Dia sebagai Tuhan, kita akan terima keselamatan dan kita tidak akan dipermalukan oleh Allah. Itulah yang harus kita imani. Iman yang sejati yang dimiliki Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, itu membuktikan ke-Mahakuasa-an Allah bekerja dalam hidup mereka. Bahkan Allah diperkenalkan secara jelas kepada seluruh masyarakat Babel. Kehidupan kita harus mencerminkan kemuliaan Allah, maka lewat hidup kita, kita memperkenalkan Yesus Kristus pada semua orang.

Kolose 1:23, “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” Iman yang teguh memberi kekuatan untuk melangkah meski badai bergemuruh. Iman yang teguh akan membuat kita tetap kuat di dalam Tuhan.

Amin.