Keep Going

. Hits: 64

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 7 Februari 2021 –  Oleh Pdt. Andrew M. Assa

 

Kejadian 6:9, “Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.Ketika Nuh tinggal di dalam kasih karunia, love break-nya Allah, itulah yang membuat Nuh tidak bercela dan dikatakan hidup bergaul dengan Allah.

 

Nuh mengalami 3 fase: krisis, kebingungan, dan kemenangan.

 

1.     Fase krisis.

 

        Kejadian 6:1-2, anak-anak Allah adalah malaikat-malaikat yang sudah jatuh terusir dari sorga, dan menghampiri anak manusia. Rencana Allah adalah untuk anak manusia, tetapi di zaman Nuh menjadi krisis karena kehadiran malaikat-malaikat yang jatuh tersebut.

 

        Kejadian 6:5-6, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”

 

        Kejadian 6:7, Allah punya rancangan untuk manusia, tetapi menjadi cemar oleh malaikat-malaikat yang sudah jatuh tersebut. Namun, Allah menemukan Nuh. Nuh terima dan berjalan dalam kasih karunia Allah. Allah yang bertanggung jawab selesaikan krisis dalam hidup kita. Karena kasih karunia, Nuh didapati sebagai orang benar.

 

2.     Fase kebingungan.

 

        Nuh mendapati tugas secara spesifik. Kejadian 6:16, di tengah krisis, di dalam kasih karunia Allah, Allah memberikan firman-Nya. Nuh adalah seorang petani, yang disuruh membuat bahtera. Tetap kerjakan pekerjaan kita dengan takut dan gentar. 2 Petrus 2:5, selama membangun bahtera, hidup Nuh menjadi pemberita kebenaran tentang akan turunnya hujan. Kejadian 2:5, bumi belum pernah ada hujan.

 

3.     Fase kemenangan.

 

        Bukan Nuh yang membuktikan kemenangannya, tetapi Allah yang bertindak. Kerjakan apa saja yang Tuhan taruh dalam hidup kita, seperti Nuh yang seorang petani, tetapi diberi hikmat membuat bahtera. Kapal bukan sekedar kayu disusun, tetapi juga harus ada struktur yang tepat. Dalam kasih karunia Allah, Allah bimbing dia. Allah juga sedang bimbing kita saat  dalam ketidakpastian. Kejadian 7:7, setelah Nuh dan keluarganya masuk bahtera, Tuhan yang menutup pintu bahtera. Saat kita bertanya-tanya, sampai kapan kita harus begini, tetap masuk dalam keselamatan yang sudah Tuhan sediakan. Ketika Allah menutup pintu bahtera, tidak ada yang bisa membuka. Bukan karena Allah jahat, tetapi Allah sedang melindungi kita.

 

Mazmur 1:1-2, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Kata merenungkan menggunakan kata hagah, yang artinya menggumamkan. Bagaimana kita bisa lolos dari krisis dalam kasih karunia? Mulai perkatakan firman. Merenungkan bukan hanya sekedar mikir. Gumamkan, perkatakan firman. Cepat atau lambat, ketika kita renungkan firman Tuhan, Allah akan berikan pewahyuan untuk kita aplikasikan dan terapkan.

 

Janji saat kita suka merenungkan firman :

 

1.     Yosua 1:8, “This book of the law shall not depart out of thy mouth; but thou shalt meditate therein day and night, that thou mayest observe to do according to all that is written therein: for then thou shalt make thy way prosperous, and then thou shalt have good success.” Ketika kita suka memperkatakan firman untuk diri sendiri, jalan kita akan dibuat berhasil dan terima keberhasilan yang baik. Kebaikan untuk kita dan keluarga.

 

2.     Ulangan 30:20, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka”, saat kita berpaut pada firman, hidupi kasih karunia Allah, itu adalah kehidupan. Ketika kita hagah, hari-hari kita panjang, tinggal di tanah yang Tuhan janjikan. Ada sebuah keuntungan bila suka merenungkan dan menggumamkan firman.

 

3.     Mazmur 119:162, “Aku gembira atas janji-Mu, seperti orang yang mendapat banyak jarahan.” Ketika kita terima janji Allah, kita berjumpa dengan kuasa dan kepastian. Seperti orang yang mendapat jarahan, tidak berusaha apa-apa tetapi mendapat anugerah.

 

Amin.