Cermin Hidup Kita

. Hits: 82

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 21 Februari 2021 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Lukas 17:26, “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia. Menjelang kedatangan Tuhan di zaman akhir, kita hidup di dalam kasih karunia Allah seperti Nuh. Allah menjaga dan memelihara kita seperti menjaga Nuh. Inilah kondisi manusia di zaman Nuh, Kejadian 6:5-6, Nuh hidup di tengah manusia yang kecenderungan hatinya jahat. Tetapi Nuh melihat dirinya berdasarkan kasih karunia, bukan fakta.

Kejadian 6:9, “Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” Apa yang jadi cermin hidup kita?

Nuh melihat fakta dari kacamata kasih karunia Allah, sehingga dapat membangun bahtera 120 tahun. Nuh konsisten. Dalam hitungan kedagingan manusia, sangat sulit untuk konsisten, apalagi 120 tahun. Tidak hanya membangun bahtera, tetapi Nuh juga konsisten memberitakan kebenaran. Bahkan Nuh dianggap gila, tetapi dia tetap konsisten dalam kasih karunia. Yang membuat kita khawatir dan tidak konsisten adalah semua yang menjadi cermin hidup kita. Bercerminlah pada firman Allah. Evaluasi diri, mana yang mempengaruhi hati dan pikiran, adalah cermin hidup kita, apakah itu fakta, media sosial, atau firman?

Matius 12:35, cerminan diri juga dipengaruhi gudang hidup kita. Nuh mengisi gudang hidupnya dengan firman Allah. Mazmur 119:11,aku simpan janji-Mu”. Berdosa terhadap Tuhan bukan hanya yang tampak. Saat tidak percaya Tuhan saat kita ada di jalan-Nya, kita sudah berdosa. Daud juga menghadapi fakta, ia harus perang lahiriah, tetapi Daud setia bertanya pada Tuhan, apa yang harus dia lakukan. Mazmur 119:25, Daud sendiri mengatakan seperti melekat pada debu, tetapi Firman menghidupkan. Mazmur 119:37, “Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa”, apa yang kita lihat di media sosial, bisa menjadi hal yang hampa. Bercerminlah pada firman Allah.

Bilangan 13:27-33, sepuluh pengintai memberikan laporan yang buruk. Fakta yang mereka lihat memberikan asumsi bahwa mereka tidak mampu karena badan mereka kecil. Fakta membuat mereka mengidentifikasi diri mereka seperti belalang. Mereka tidak tahu kenyataan sebenarnya, tetapi berasumsi berdasarkan pola pikir hidup mereka. Itulah cerminan diri mereka.

Tetapi Yosua dan Kaleb, adalah orang-orang yang hatinya dipenuhi firman, mereka sepenuh hati kepada Tuhan. Yosua 2:9-11, “dan berkata kepada orang-orang itu: "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.” Melalui pernyataan Rahab, sebenarnya mereka takut menghadapi Israel karena mereka tahu Allah menyertai Israel. Ini adalah real fact. Tetapi kenapa mudah terpengaruh fakta yang kita lihat.

Selama ini mungkin kita takut dengan raksasa-raksasa itu, tetapi sesungguhnya merekalah yang takut pada Allah yang di pihak kita. Daniel 11:32, tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak, ketika kita kenal siapa Allah kita, kita biasa intim dengan Dia, kita akan kuat dan Allah akan bertindak. Daniel 6:11, ada maksud jahat yang ditujukan untuk Daniel, tetapi ia biasa bergaul dengan Allah. Daniel tetap kuat, dan Allah yang bertindak. Beriman, cari wajah-Nya.

Amin.