Berpijak Dengan Iman

. Hits: 94

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 3 Oktober 2021 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Apapun kondisinya, apapun musimnya, biarlah hati kita terarah pada Tuhan. Kejadian 26:25 - Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ. Saat itu terjadi kelaparan di sana (ayat 1). Tuhan berfirman kepada Ishak supaya jangan pergi ke Mesir, tapi tinggal di Gerar. Karena menurut pikiran, di Mesir ada sungai Nil yang tidak pernah surut, lembah Nil dianggap daerah yang subur. Waktu Ishak menabur, saat itu musim kering. Secara logika, apa untungnya menabur di musim kering? Kalau Tuhan perintahkan kita menabur, Tuhan tidak ingin membuat kita jadi miskin, Tuhan sediakan benih. 1 Korintus 3:7-9, kalau benih ditabur, Allah yang memberi pertumbuhan. Tetap ada upah, hasil, pelipatgandaannya. Waktu kita menabur dengan iman, kita jadi mitra kerjanya Allah. Kalau kita taat, Allah menjadi pemilik saham mayoritas dalam hidup kita. Kabar baiknya, Ia akan bertanggung jawab atas hidup kita.

Kejadian 26:12,13. Ishak menabur, dan dia mendapat hasil 100 kali lipat karena ia diberkati Tuhan. Tempatnya bisa saja tidak kondusif, tapi kalau ada kehadiran Tuhan, kita diberkati di sana. Ketika sedang dalam masa kekeringan dan Ishak harus menabur, hatinya tetap terarah kepada Tuhan. Ketika ia diberkati sehingga menjadi kaya, lebih kaya dan sangat kaya, dan menjadi lebih berkuasa daripada Abimelekh, hatinya tetap terarah kepada Tuhan. Ketika dia disusahkan, sumur Esek, Sitna direbut, hatinya tetap kepada Tuhan. Ini yang dialami Ishak. Ishak pindah ke Rehobot, dia gali sumur lagi dan dia terima kelapangan, tempat yang luas, tetapi hati Ishak bukan pada Rehobot, bukan pada sumurnya. Ia pergi ke Bersyeba, dia dengar firman Allah, Allah meneguhkan dia (Kejadian 26:24).

Bilangan 14:6-9. Tuhan tidak pernah menyuruh bangsa Israel untuk mengintai tanah Kanaan, tetapi mereka yang minta. Akhirnya Tuhan ijinkan. Alamiahnya iman adalah percaya percaya walau belum dilihat, maka kita akan alami (Mazmur 34:9). Kejadian 13:31-32. Hasilnya dari 12 pengintai, mayoritas (10 pengintai) menyampaikan kabar busuk tentang negeri yang diintai. Tapi 10 pengintai hanya melihat review fakta, mereka terintimidasi karena perawakan. Yosua dan Kaleb ingat firman Allah, Tuhan pernah berfirman kepada Musa. Ketika mereka ingat dalam hati, itu ada dalam pikiran dan itu yang mereka perkatakan. Hati-hati dengan apa yang keluar dari mulut kita (Lukas 6:45; Amsal 18:21; Pengkhotbah 5:5). Ketika hati kita terarah kepada Tuhan, hati, pikiran dan perkataan yang keluar dari mulut harusnya terarah kepada Tuhan.

Yosua 1:3 - Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Sebetulnya Allah sudah berikan firman, berjanji, dan itulah yang dipegang Yosua dan Kaleb. Hati mereka terarah kepada Tuhan. Mazmur 37:3,5. Kita perlu iman. Ketika hati kita terarah kepada Tuhan, iman bukan berdasar apa yang kita lihat atau meresponi apa yang kita lihat. Banyak kali orang hanya sekadar meresponi situasinya. Iman adalah meresponi situasi karena firman yang ada di dalam hati. Ketika kita percaya, Tuhan bertindak. Mazmur 115:9-15. Tuhan berkata setiap tempat imani dan amini. Ketika Tuhan berkata setiap tempat yang kau injak, Aku berikan. Yosua tidak diam saja, ia harus melangkah. Ada sebuah tantangan, ketika hati terarah kepada Tuhan, Tuhan ingin kita melangkah dengan iman.

Waktu Yosua menjelang masuk ke Tanah Perjanjian, mereka berhadapan dengan sungai Yordan—beda dengan laut Kolsom. Di laut Kolsom, Tuhan belah laut dulu baru umat Tuhan lewat. Waktu tiba di sungai Yordan, sungai Yordan sedang banjir. Tapi waktu kaki para imam menjejakkan kakinya di air yang banjir, berhentilah airnya. Ketika kita berkata hati saya terarah, kita perlu punya tindakan iman dan ketaatan.

Bangsa ini suka merusak rencana Tuhan. Mazmur 78:41 [FAYH] mereka membatasi berkat-berkat Tuhan dengan perkataan, [TPT] mereka memprovokasi Tuhan. Mereka dengar firman Allah, tahu firman Allah, namun yang diresponi daging dan emosinya. Ketika kita belajar terarah kepada Tuhan, sama seperti Daud, saya selalu taruh Tuhan di depan saya, sehingga kemuliaan Tuhan-lah yang terpancar. Situasinya buruk, saya punya kekuatan yang terbatas, tapi kemuliaan Tuhan yang menolong saya. Kemuliaan Tuhan bukan hanya sekadar bicara tentang cahaya, tapi berbicara juga kita punya damai sejahtera, tetap bersukacita. Amsal 3:5,6. Percaya, akui Dia dalam segala lakumu—termasuk akui Dia dengan mulutmu. Mazmur 112:7, ada banyak kabar celaka di sekitar kita tapi, hatinya tidak gentar dengan kabar celaka karena hatinya terarah kepada Tuhan.

Amin.