Reaksi Atau Respon

. Hits: 75

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 10 Oktober 2021 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Yakobus 1:19-21,Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.”

Reaksi adalah sebuah tanggapan spontan dan alamiah. Respon adalah jawaban yang diutarakan atau tertulis, hasil sebuah pemikiran. Tuhan ingin kita cepat mendengar, lambat untuk berkata-kata dan lambat untuk marah. Zaman sekarang kita banyak mendengar dari banyak hal, dari berbagai sisi media yang bisa membangkitkan amarah. Amarah sama seperti murka, marah yang tidak terkendali. Amarah tidak mengerjakan kebenaran. Ketika kita punya hati yang terarah pada Tuhan, kita terima firman, ijinkan firman bekerja dalam hati sehingga dalam menanggapi segala sesuatu, kita meresponinya berdasarkan firman yang kita terima.

1 Samuel 18:8-9. Kadangkala ada banyak orang berkata-kata di sekitar kita yang membangkitkan amarah. Apakah kita bereaksi atau meresponi Tuhan? Saat itu Saul sudah dua puluhan tahun menjadi raja dan selama ini selalu menang. Saul bereaksi dan mulai berasumsi, punya perkiraan buruk terhadap Daud, padahal tidak sesuai kenyataan. Hati-hati, iblis seringkali memicu kita supaya bereaksi, tinggal dalam reaksi, dan punya asumsi—padahal belum tentu yang kita pikirkan terjadi. Saul menjadi sangat benci kepada Daud. Dari awal Saul selalu bereaksi, bukan meresponi Allah. Apakah Saul tidak dipimpin Roh Tuhan? 1 Samuel 10:6-7, ketika Saul diurapi jadi raja, ia dipimpin oleh Roh Tuhan. Ketika kita yakin dipimpin oleh Roh Tuhan, lakukan saja yang didapat tangan kita, karena Tuhan menyertai kita. Ijinkan Roh Tuhan, firman-Nya mendasari hidup kita, sehingga apapun yang mau kita kerjakan, jangan kuatir karena Roh Tuhan menyertai kita. Sayangnya, Saul memulai dengan sebuah kebiasaan, dia hanya bereaksi terhadap orang-orang daripada meresponi Allah. 1 Samuel 13:11-12, Samuel sudah berpesan untuk mendirikan mezbah sebelum Saul berperang. Saul menunggu Samuel yang tidak segera datang. Saul bereaksi, berasumsi bahwa orang Filistin akan segera menyerang sehingga ia menggantikan tugas Samuel. Reaksi yang diulang-ulang lama-lama menjadi karakter dan akhirnya menjadi nasib.

1 Samuel 15, Tuhan sudah berpesan untuk menumpas semua orang dan hewan saat berperang melawan Amalek. Saul memilih hewan yang tambun-tambun dan masih menyayangkan raja Agag. 1 Samuel 15:24, Saul lebih takut kepada rakyat (fakta) daripada kepada Tuhan dan nabi-Nya. Selama 20 tahun Saul menjadi raja dan anaknya Yonathan berteman dengan Daud, tetapi dia selalu bereaksi dan berasumsi, dan hasilnya fatal. 1 Samuel 15:30, Saul mengancam Samuel supaya menaruh hormat padanya. 1 Samuel 15:35, Samuel tidak pernah bertemu Saul lagi sejak hari itu.

Tuhan pilih pengganti Saul. Saat Saul bereaksi, urapan Tuhan berpindah kepada Daud. 1 Samuel 18:14. Tuhan sebetulnya punya berkat bagi kita, dan Tuhan ingin lewat berkat-Nya, lewat kasih setia-Nya kita terbentuk. Tapi itu pilihan kita, mau bereaksi atau meresponi Tuhan. Mazmur 132. Berbeda dengan Daud, ketika Daud masih remaja, waktu tabut perjanjian di Kiryat Yearim, itu diabaikan oleh Saul. Saul tidak mau memindahkan ke Yerusalem. Tetapi Daud punya hati untuk membawa tabut kembali, hatinya selalu terarah pada Tuhan. Tuhan mengurapinya menjadi raja.

Faktanya Daud bersama pasukannya sedang bersembunyi di gua Adulam, tetapi dia punya sebuah hati yang terarah kepada Tuhan. Mazmur 57:7-11, Saul dan pasukannya di mulut gua, dan siap membunuh dia. Daud tetap memuliakan Tuhan meskipun situasi sangat buruk. Dia tidak bereaksi pada keadaan, ia juga tidak sedang putus asa, tetapi dia responi Tuhan—menggubah mazmur.

2 Samuel 5:5. Bahkan ketika Daud menjadi raja atas Yehuda dan Israel, di puncak kejayaannya dia tetap meresponi Tuhan dan menyadari keberadaannya hanya karena kasih setia Tuhan. Mazmur 13:4-6. Mazmur 7:1,2, saat ia dikutuki oleh keluarga Saul pun, dia tetap serahkan pada Tuhan, dia tidak menggunakan kekuasaannya. Ganti bereaksi terhadap keadaan, Daud meresponi Allah. Mazmur 139:7,8. Ini respon Daud, ketika aku sukses/diberkati di ujung langit, Tuhan ada di kesuksesanku. Ketika orang berkata engkau gagal, ada di titik nadir, Tuhan pun ada di situ. Mazmur 3 adalah doa Daud saat dikudeta oleh Absalom, anaknya sendiri. Dia tidak mencoba melawan, tapi tetap meresponi Tuhan. Mazmur 51:13,14, pengakuan Daud kepada seluruh rakyat saat dia melakukan kesalahan. Daud tidak ingin Roh Tuhan diambil daripadanya, karena Daud selalu taruh Tuhan di depannya.

Mazmur 16:8 [FAYH], “Aku selalu memikirkan Tuhan karena Ia begitu dekat, aku tidak akan pernah terantuk atau jatuh.” Daud selalu taruh Tuhan di depannya, Daud bukan memikirkan asumsi dan prediksi. Daud tahu apa yang akan terjadi, tetapi dia jalani bersama dengan Tuhan sehingga tidak terantuk.

Amin.