Mengikut Yesus, Menyangkal Diri, Memikul Salib

. Hits: 54

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 21 November 2021 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Ketika kita sedang dibentuk firman-Nya, justru keuntungan lebih banyak kepada kita. Ketika kita bisa seirama dengan Tuhan, itulah yang menyenangkan Tuhan. Ketika kita satu frekuensi dengan Tuhan, apa yang Dia miliki, apa yang menjadi kesanggupan Allah, itu akan menjadi bagian kita. Nikmati saja gandum dan anggur sejati—Yesus.

Matius 16:21-25 - ... Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.... LAI memberikan judul perikop ini “Syarat-syarat mengikut Yesus”. Berapa banyak kali kita punya sebuah konsep, ketika saya mengikut Yesus, menyangkal diri, dan memikul salib, sepertinya ada konsep yang kita buat. Konsep kita berbeda dengan konsep Allah.

Yesus terima penderitaan bukan dari orang yang tidak kenal firman, tapi justru dari orang-orang yang tahu firman—hanya memahami firman dengan pengetahuan tanpa ijinkan firman itu bekerja dengan iman. Petrus mulai punya konsep saya akan bela Tuhan. Pikiran Allah dan pikiran kita beda. Berapa banyak kali kita berpikir sayalah yang harus bayar harganya. Tuhan-lah yang membayar harganya dan menyediakan kekuatan-Nya dan Tuhan sedang impartasikan kuasa-Nya itu sehingga kita bisa mengikut Dia. Menyangkal dirinya artinya menyangkal semua konsep dirinya, menyangkal semua pola pikir dirinya, menyangkal semua yang ada di kepalanya. Ketika Tuhan berkata jadilah tenang supaya engkau dapat berdoa, berapa banyak kali kita pikir masa berdoa terus? Masa saya tidak berusaha? Rasanya tidak populer. Di dalam mengikut Tuhan, di dalam kita menyangkal konsep diri kita, ingat hidup kita di tangan Tuhan. Bekerjalah dengan iman, Tuhan penyedia, Tuhan yang pegang hidup kita. Kita ikuti firman-Nya.

Matius 26:35, Petrus coba mengandalkan kekuatannya sendiri dengan bangga berkata, "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lain pun berkata demikian juga. Kelihatannya hebat, sebuah deklarasi iman, penyangkalan diri. Penyangkalan diri bukan deklarasi iman, tapi sebuah pengalaman. Hanya Yohanes yang tidak demikian. Semua yang berkata tidak akan menyangkal Yesus, justru meninggalkan Yesus saat Yesus ditangkap sampai Yesus disalibkan. Hanya Yohanes yang tetap ikut sampai di pinggir salib. Yohanes, seorang yang suka bersandar di dada Yesus (Yohanes 13:23). Injil Yohanes tidak pernah menuliskan tentang nama Yohanes. Yohanes kelihatannya bukan seorang yang hebat, patriotis. Ketika ia tetap menikmati gandum dan anggur yang sejati—Yesus, di situlah dia terima kekuatan. Budak kecil yang di halaman rumah imam besar hanya memastikan kalau Petrus dan Yohanes murid Yesus, dan tidak melakukan apa-apa. Orang yang tahu bersandar pada anugerah Allah, ia akan tetap kuat. Tapi Petrus yang coba mengandalkan kekuatannya sendiri, hanya dengan perkataan budak kecil yang sepele, dia sudah ketakutan. Tiga kali Petrus menyangkal Yesus, dia sumpahi dan kutuki Yesus.

Petrus tetap ada di pikiran Yesus, buktinya Yesus mendoakan Petrus Lukas 22:31-32. Yesus tahu kekuatan kita terbatas. Kalau kita coba mengikut Yesus, menyangkal diri, memikul salib seperti konsep kita, ingat, kekuatan kita terbatas. Tapi ketika kita sama seperti Yohanes bersandar di hati Yesus, Yesus berdoa untuk kita. Yohanes 17:15-19. Kita memang masih di dunia, tapi Bapa melindungi kita dari yang jahat. Ketika kita percaya pada firman-Nya, setuju dengan firman-Nya maka firman-Nya yang jadi dalam hidup kita, bukan dunia yang jadi dalam hidup kita. Waktu kita dengar firman, ini adalah upaya Bapa menguduskan kita di dalam kebenaran. Yesus menguduskan diri-Nya bagi kita, pengertiannya: Aku membaktikan diri-Ku sendiri untuk memenuhi keperluan-keperluan mereka, agar mereka tumbuh di dalam kebenaran dan kesucian [ayat 19 - FAYH]. Itu diterima oleh Yohanes, Petrus pun juga mengalami.

Sesudah Petrus menyangkal Yesus tiga kali, Yesus tetap pulihkan Petrus. Yohanes 21:18, inilah konsep Yesus bagi Petrus. Ketika kita bertumbuh di dalam Tuhan, kita akan makin peka dengan suara Tuhan, sehingga kita akan pergi melakukan yang rasanya bukan pola pikir kita. Tapi itulah proses kita sangkal diri, pikul salib kita, karena Tuhan tahu yang terbaik bagi kita.

Ketika seseorang mau bersandar pada kasih Allah, Allah akan pimpin kita. Tidak perlu kita cari konsep bagaimana kita menyangkali diri, memikul salib kita. Ijinkan Dia menuntun kita. 1 Petrus 1:3-5; 5:10; 2 Petrus 1:2-4. Ketika kita nikmati kasih karunia dan damai sejahtera-Nya, kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, .... Nikmati gandum dan anggur. 2 Petrus 3:18. Bertumbuhlah di dalam kasih karunia, pengenalan akan Allah.

Amin.