Seirama Dengan Tuhan Penentu

. Hits: 119

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 30 Januari 2022 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Bangun hidup kita di atas janji Allah. Karena firman-Nya tidak dapat dibatalkan, itu sebabnya pengharapan kita tidak dapat bergoncang. Kita tidak berdiri atas semua yang dari dunia, ataupun luka masa lalu dan trauma. Kita hidup karena janji Allah yang berharga. Biarlah kita seirama dengan Tuhan. Iblis paling senang membuat kita tidak seirama dengan Tuhan. Mazmur 139:2, “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.” Tuhan tahu pikiran kita.

Mazmur 139:23-24 adalah doa dari pemazmur, rupanya ada banyak hal di dalam dunia ini yang membuat pikiran jadi seperti medan peperangan. Ayat 24lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! Kita bisa berdoa agar Tuhan menuntun pikiran kita karena pikiran kita adalah medan sasaran si jahat. 1 Petrus 5:8, singa yang mencari mangsa tidak pernah mengaum, dia akan diam. Tetapi Iblis paling senang mengacaukan pikiran kita, dengan berjalan keliling dan mengaum memberikan intimidasi melalui berita demi berita. Hasilnya pikiran kita menjadi sangat terpengaruh, kita menjadi ketakutan, kecewa, dan kecil hati. Yohanes 8:44, auman Iblis tidak ada kebenaran. Kita bisa saja ditakut-takuti auman dunia. Ingat! Iblis adalah pendusta, selalu membuat kita berasumsi melalui pikiran kita.

Iblis selalu menawarkan 3 poin :

1.   Meniadakan/menihilkan Tuhan. “Kalau Tuhan ada, kenapa ada Covid? Katanya Tuhan Mahakuasa, mana buktinya? Tetap ada kejahatan dan peperangan.” Iblis paling senang membuat kita berpikir untuk mempertanyakan kuasa Tuhan.

2.   Negatif. Diawali dengan Godless thinking, kemudian kecewa, sakit hati, marah, dan putus asa.

3.   Membesar-besarkan. Mulai berasumsi. Dimulai dari pikiran, kita menebak dan membesar-besarkan masalah.

Amsal 12:25, “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” Mungkin kita punya kekuatiran karena situasi pandemi sehingga berasumsi tentang masa depan. Kesusahan sehari cukup untuk sehari. Di hari depan sudah ada penyediaan Allah. Tapi Iblis paling senang mengaum-ngaum untuk mencari mangsa yang dapat ditelan. Rupanya ada mangsa yang bisa ditelan dan ada yang tidak bisa ditelan. Filipi 2:5 [NCV]In your lives you must think and act like Christ Jesus (Dalam hidupmu kamu harus berpikir dan bertindak seperti Kristus Yesus). Kalau kita berpikir dan bertindak seperti Kristus Yesus, Iblis bisa saja tetap mengaum, tetapi kita jadi mangsa yang tidak bisa ditelan. Kolose 3:4, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita,” situasi bisa susah, Kristus tidak mati dalam hidup kita.

Bagaimana berpikir dan bertindak seperti Kristus?

1.   Berpusat pada Kristus. Orang boleh mereka-rekakan yang jahat, tetapi Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan. Allah turut bekerja dalam segala perkara. Mazmur 27:10, Daud dibuang oleh keluarganya. Dianggap anak tiri dan dibedakan dari kakak-kakaknya. Dia sadar, keberadaannya karena Allah lewat ayah dan ibunya. Melalui perlakuan orang tuanya, Daud dibentuk menjadi gembala domba dan hidupnya bergantung pada Tuhan.

2.   Pikiran yang inspiratif. Daniel 2:19-23, Nebukadnezar memaksa para ahli bijaksana untuk mengartikan mimpinya yang dia sendiri lupa. Ahli-ahli lain tidak mampu, tetapi Daniel beserta tiga rekannya yang selalu tertuju pada Tuhan. Lebih dari sekedar berpikir positif, kita berpikir inspiratif, karena sumbernya dari Tuhan. Orang yang berpusat pada Tuhan, hidupnya akan inspiratif, keluar sesuatu yang tidak pernah bisa dipikirkan orang.

3.   Faktual. Iblis paling senang membesar-besarkan sehingga berasumsi. Tetapi ketika kita berpikir dan bertindak seperti Allah, kita bertindak faktual, bukan asumsi. Daniel 2:24, Daniel meminta dibawa kehadapan raja untuk mengartikan mimpinya. Orang yang terpusat pada Tuhan, ia akan terima sesuatu yang inspiratif. Itu sebabnya Daniel bertindak faktual.

2 Korintus 10:5, [KJV] “Casting down your imagination” kita bisa berpikiran terbuka tetapi taklukkan pada Kristus. Kita sering berimajinasi dan menyimpulkan asumsi masa depan. Apakah Tuhan tidak ada di masa depan? Tuhan yang pimpin hidup kita.

Matius 6:34, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Casting down your imagination, taklukkan pada Kristus. Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Amin.