Allah Melawat Umat-Nya (Influencernya Allah)

. Hits: 77

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 15 Mei 2022 Oleh Pdt. Peterus Rediwan

Bicara tentang melawat, dalam Perjanjian Baru artinya perjumpaan Allah dengan manusia yang disertai dengan tindakan Allah. Allah tidak sekedar basa-basi saat berjumpa dengan manusia, selalu ada dampak terhadap umat-Nya.

Yohanes 4:3-7, perempuan Samaria ditafsirkan bukan perempuan yang ‘baik-baik saja’. Ia pernah memiliki 5 suami dan bahkan saat itu tinggal bersama laki-laki yang bukan suaminya. Kejadian 24:11, ada suatu kebiasaan perempuan menimba air petang hari agar tidak panas. Perempuan Samaria ini memilih menimba air di siang hari yang terik, karena ia menghindari pergunjingan.

Perjumpaan Allah terjadi, melalui 2 sisi. Pertama, dari sisi Yesus, lawatan terjadi atas inisiatif Allah, bukan karena kehebatan manusia. Yesus tahu orang Yahudi tidak pernah melewati Samaria bila beranjak dari Yudea ke Galilea. Biasanya memilih memutar. Yohanes 4:4, “Ia harus melintasi Samaria. Allah adalah Penguasa. Ia memiliki power dan berhak menentukan kepada siapa Dia ingin berjumpa. Allah ingin melibatkan setiap kita dalam proyek keselamatan-Nya, Dia mau pakai siapapun juga tanpa peduli masa lalunya seperti apa. Mengapa Yesus memakai orang Samaria yang bermasalah dan menjadi bahan pergunjingan? Allah kita bukanlah Allah yang melihat masa lalu, tetapi Dia adalah Allah yang melihat masa depan. Yesus tahu perempuan Samaria ini tidak baik hidupnya karena belum ada di tangan yang tepat. Seperti tanah liat di tangan seorang penjunan, dari yang tidak berharga, menjadi sesuatu yang mulia.

Dari sisi perempuan Samaria, ada 4 hal yang terjadi ketika lawatan datang:

1.   Hatinya terbuka dan mau diubah oleh Tuhan. Yohanes 4:16-19, (ayt 19) “Kata perempuan itu kepada-Nya: Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.” Di hadapan Tuhan, semua terbuka. Perempuan Samaria ini tidak membela diri saat Yesus membuka fakta yang seolah menghakimi hidupnya. Dia terbuka atas firman itu. Ada reaksi yang mau dikoreksi oleh kebenaran firman. Mari kita belajar, saat firman itu datang lewat orang yang tidak kita kenal atau status sosialnya lebih rendah, buka diri.

2.   Dituntun pada pengenalan Kristus yang lebih dalam. Yohanes 4:9, saat pertama kali bertemu, perempuan Samaria ini menganggap Yesus hanya orang Yahudi biasa. Pengenalannya hanya sebatas itu. Tetapi mulai berubah di Yohanes 4:11, 15, dalam terjemahan lain, ia mulai mengakui yang di hadapannya adalah seorang penguasa, dan memanggil Yesus dengan kata Tuan. Yohanes 4:19, mulai menyadari bahwa Yesus seorang nabi. Yohanes 4:42, Kalau semua orang tahu Yesus adalah Juruselamat, perempuan ini pasti akan lebih dulu menyadari posisi Yesus. Tetapi ia mengenal Kristus secara pribadi saat membuka diri.

3.   Fokus perempuan Samaria berubah, dari pikiran masalah jasmani menjadi pikiran tentang Kerajaan Sorga. Yohanes 4:15, ia hanya berpikir masalah dunia karena lelah menimba siang hari. Lalu berubah, Yohanes 4:29, dia tinggalkan tempayan yang selama ini dipakai untuk ambil air, lari ke kota dan mengabarkan kabar sukacita. Fokusnya sudah bukan tempayan lagi, tetapi Kerajaan Sorga.

4.   Imannya berkata “aku sudah terima air hidup itu”. Yohanes 4:14 “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Dia yakin terima air hidup itu dan sukacita meluap. Ketika Tuhan melawat, hidup perempuan Samaria ini diubahkan, ia berdampak. Yohanes 4:39, banyak orang percaya pada Yesus karena perkataan perempuan ini. Terjadi kegerakan lawatan Allah yang luar biasa karena semakin banyak yang percaya. Allah tidak pernah salah berjumpa, Dia tahu perempuan Samaria ini akan mampu mengubahkan banyak orang.

Siapa perempuan Samaria ini? Dia hanya orang dengan masa lalu yang buruk dan dibenci banyak orang. Tetapi ketika Tuhan mengubah kehidupannya, dia menjadi influencer-nya Allah. Dia mengabarkan berita sukacita, kabar baik pada semua orang, dan hidupnya berdampak luar biasa. Dia tidak berhenti mengabarkan kabar baik sampai akhirnya mati sebagai martir. Ia mendapat predikat Santa Photina, dan menjadi jajaran orang kudus, meskipun masa lalunya dianggap sebagai sampah masyarakat. Tuhan mau menjumpai kehidupan kita, Dia mau melawat dan membawa air hidup. Buka diri dan terima lawatan-Nya.

Amin.