Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 24 Mei 26 - Oleh Pdt. Andrew M. Assa
Ketika kita ijinkan Roh Kudus bekerja, memenuhi, kadangkala memang tidak sesuai yang kita inginkan dan bayangkan. Karena kita punya konsep kalau kepenuhan Roh Kudus adalah seperti ini, tidak! Allah terlalu ajaib untuk kita batasi. Lukas 4:1 - Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Peristiwa Toronto Blessing, tidak ada yang salah dengan itu karena Roh Allah bisa bekerja dengan cara yang berbeda. Yang salah adalah ketika perbuatan Roh Kudus itu seperti jadi satu dogma, kalau kepenuhan Roh Kudus harus begini, harus begitu. Rasul Paulus berkata janganlah kamu mabuk anggur, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus (Efesus 5:18). Paulus memberi perbandingannya dengan mabuk anggur. Kepenuhan Roh Kudus dibuktikan dengan buah. Jangan terjebak kepada manifestasinya.
Tuhan memberikan janji: Matius 3:11 - Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Baptis artinya diselamkan kemudian keluar dari air. Yesus sendiri dibaptis. Baptisan adalah deklarasi saya adalah milik Allah. Kepenuhan Roh Kudus diberikan oleh Yesus sendiri. Kisah Para Rasul 1:4-5. Roh Kudus itu Penolong, Penghibur. Roh Kudus itu adalah janji dari Bapa untuk kita, bukan untuk kita pamerkan, tapi untuk kepentingan kita. Seorang yang penuh dengan Roh Kudus bukan supaya dapat label dia penuh urapan. Roh Kudus bisa kerjakan banyak hal. Jangan hanya terpancang kepada manifestasinya di luar. Karya Roh Kudus selalu menunjuk kepada Yesus, mengarahkan orang kepada Yesus. Ketika orang mulai penuh Roh Kudus kemudian mulai tertuju kepadanya, sebetulnya bukan dari Roh Kudus. Hati-hati! Pekerjaan Roh Kudus selalu tentang Yesus. Itu ada hubungannya dengan buah. Matius 3:8-10. Penerapannya buat kita: saya sudah pernah dipenuhkan dengan Roh Kudus, tapi kalau tidak menghasilkan buah dari karya itu, kapak sudah tersedia pada akar pohon. Jadi kepenuhan Roh Kudus jangan hanya terfokus pada manifestasi yang di luar.
Roh Kudus itu Roh menguduskan 2 Tesalonika 2:13. Roh Kudus bukan seperti satu alat untuk kita tunjukkan. Namanya saja Roh Kudus, ketika Roh bekerja, Roh menguduskan. Dalam Perjanjian Baru menguduskan menggunakan kata hagios = kudus. Perjanjian Lama menggunakan kata kadosh. Hagios maupun kadosh artinya dipisahkan, dibawa dekat dengan Tuhan. Roh yang menguduskan itu Roh yang sedang memisahkan kita. Kita semua punya tabiat manusia lama. Alamiah manusia kalau dilukai, dijahati ada kemungkinan balas atau diam, kecewa, dendam, sakit hati, kepahitan. Ketika Roh Kudus yang bekerja, Roh menguduskan. Dia mengadakan perubahan. Tuhan penuhi dengan kuasa, walaupun tidak “berbahasa lidah”. Hati-hati dengan dosa kesombongan. Luciel jatuh karena kesombongan. Rupanya tidak jaminan orang yang dekat dengan urapan tidak sombong. Itu sebabnya semakin kita dekat dengan hadirat-Nya, dengan urapan, waspada! Karena dosa pertama kesombongan karena urapan itu.
Ketika Roh Kudus itu hadir, Roh Kudus itu menguduskan sehingga itu mengubahkan. Kisah Para Rasul 2:44-47. Roh Kudus yang menguduskan, memisahkan mereka, membuat perubahan. Sehingga yang tadinya kikir jadi murah hati. Mereka lakukan dengan tulus hati = hati yang sederhana. Yang utama perubahan hati, tidak perlu dibuat-buat, itu jadi kesaksian menghasilkan buah. Ayat 47, mereka disukai semua orang. Ketika Roh menguduskan mereka, ada gaya hidup yang berubah. Ada perubahan hati menjadi murah hati, bukan hanya kepada jemaat gereja tapi kepada siapapun, terutama keluarga bisa melihat ada buah Roh Kudus dalam hidupmu. Orang-orang di balik bayang kita bisa rasakan buahnya. Roh Kudus adalah Roh yang menguduskan sehingga Dia bawa kita responi firman Allah.
Dari hasil karya Roh Kudus harus ada buahnya. Kalau berbangga sudah penuh dengan Roh Kudus, tapi kalau tidak ada buah hati-hati, kapak sudah tersedia di akar pohon. Buah Roh hanya satu tapi punya sembilan rasa. Galatia 5:22-23. Klasifikasinya:
1. Kasih, sukacita, damai sejahtera - akan membentuk diri kita, yang kita nikmati dan kalau kita jalani akan menentukan nasib.
2. Kesabaran, kemurahan, kebaikan - akan dinikmati orang lain.
3. Kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri - akan membentuk karakter kita yang akan kita persembahkan pada Tuhan.
Kasih, sukacita, damai sejahtera, buah ini dialami oleh satu pribadi - Yusuf. Kasih: 1 Korintus 13:4,7 - Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Matius 1:19, 24. Sukacita: 1 Korintus 13:6 - Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Roma 12:15. Lukas 2:4-7. Damai sejahtera: Yesaya 26:3 - Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Matius 2:13-15, 19-23 penggenapan dari Yesaya 8:23; 9:1.
Amin.

