Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 16 Agustus 2026 Oleh Pdt. Andrew M. Assa
Ketika dunia sedang dalam kegelapan, kekelaman menutupi bangsa-bangsa, terang Tuhan terbit. Apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita ketika kita terima kemerdekaan? 1 Petrus 2:16 - Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Kalau kita sudah diberikan kemerdekaan, hiduplah sebagai orang merdeka dan jangan menyalahgunakan. Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Di dalam 81 tahun kemerdekaan, in this economy kalau sudah diberikan rejeki jangan terfokus pada persediaan, hiduplah dengan mental penyediaan. Kenapa seringkali orang menyalahgunakan kemerdekaan? Karena mereka berpikir semakin banyak persediaan, semakin sejahtera hidup saya. Tidak heran tidak peduli baik atau salah caranya, yang penting saya kumpulkan persediaan untuk saya. Sebagai orang percaya kita hidup dipimpin oleh Tuhan, diajari oleh Tuhan sama seperti bangsa Israel ketika keluar dari Mesir mereka punya persediaan tapi habis dalam seminggu. Selama mereka berjalan di padang gurun, mereka harus tetap percaya kepada penyediaan Allah baik lewat manna setiap hari atau lewat air yang mereka butuhkan. Kita masih di padang gurun dunia, tapi percayalah setiap musim hidup kita ada penyediaan Allah. Bersyukur juga dengan semua yang ada di tangan. Itu sebabnya rasul Petrus mengatakan jangan salahgunakan kemerdekaan.
Ketika kita hidup di dalam kemerdekaan yang Tuhan berikan, hidup sebagai hamba Allah. Apa pengertian hiduplah sebagai hamba Allah?
Ketika umat Tuhan dimerdekakan, ada peristiwa simbolis tapi juga ada peristiwa sejatinya.
Simbol/tanda umat Tuhan dimerdekakan: Keluaran 12:3. Waktu itu bangsa Israel ada di Mesir sebagai budak. Tuhan punya rancangan untuk bawa umat-Nya keluar dari Mesir. Tuhan punya rencana untuk bebaskan kita. Peristiwa simbolisnya mereka harus mempersiapkan seekor anak domba, ada ketentuannya domba jantan, usianya, mereka harus simpan sejak hari ke-10 dan disembelih pada hari ke-14. Ketika anak domba itu disembelih, memang dikorbankan, tapi dagingnya dinikmati oleh seisi rumah. Ayat 7, darah diambil sedikit, dioleskan pada kedua tiang pintu dan ambang atas. Ayat 23, Mesir hidup kita sedang dalam tulah, dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ketika ada tulah, kutuk yang sedang menimpa Mesir, setiap rumah di mana umat Tuhan menikmati daging anak domba dan ada tanda darah di tiang pintu, pemusnah akan melewatinya. Dalam peristiwa Paskah pertama di dalam rumah tidak boleh ada ragi selama satu minggu dalam perayaan itu, Keluaran 12:19.
Yohanes 1:29, Yesuslah sejatinya Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Waktu kita terima perjamuan kudus, kita sedang memperingati Anak Domba Allah yang sejati itu. 1 Korintus 11:24-25. Waktu kita makan roti, sama seperti bangsa Israel, anak domba yang dikorbankan harus dimakan oleh orang seisi rumah, kita makan tidak dalam bentuk daging. Lewat kita minum anggur, kita seperti mengoleskan tanda darah di tiang dan ambang pintu. Waktu kita terima perjamuan kudus, konsepnya bukan lagi untuk menghapus dosa, tapi kita sedang ambil bagian dalam persekutuan tubuh dan darah Kristus. Menjadi peringatan Anak Domba ada di dalam saya dan saya di dalam Dia. Jangan jadikan perjamuan kudus jimat. Perjamuan kudus kita terima dengan iman apapun kondisi kita. Saya makan daging anak domba dan oleskan darah di tiang dan ambang pintu. Tulahnya ada, tapi itu tidak menjamahmu.
Tentang ragi: Keluaran 12:19, 1 Korintus 5:7 - Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Kita sudah menjadi satu di dalam kematian dan kebangkitan Kristus lewat anak domba Paskah yang kita terima lewat tubuh dan darah, tapi kita juga harus buang ragi kebencian dan kejahatan. Ayat 8 [FAYH] - Karena itu, marilah kita berpesta dan menjadi kuat dalam hidup kekristenan kita. Kita tinggalkan jauh-jauh hidup lama yang penuh dengan kanker kebencian dan kejahatan. Marilah kita berpesta dengan roti murni, yaitu kehormatan, ketulusan hati, dan kebenaran. Galatia 5:13, Tuhan panggil kita sebagai bangsa Indonesia, layanilah seorang akan yang lain dengan kasih. Galatia 6:7-10, konteks Rasul Paulus sampaikan hukum tabur tuai bukan tentang dosa, tapi dalam pelayanan. Hukum Roh mengajarkan tabur yang baik. Buang ragi kebencian kepada pemerintah, mungkin kepada rezim yang ada. Tabur dalam Roh, taburkan doa, berkat buat mereka maka kita akan menuai hidup yang kekal dari Roh.
Amin.

