Jangan lepaskan dan kehilangan identitas

. Hits: 10

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 13 September 2026 Oleh Pdt. Yani Arfianto

Roma 8:9 - Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Setiap orang percaya dipanggil bukan hanya untuk percaya saja kepada Kristus, tetapi juga untuk hidup di dalam Roh. Rasul Paulus mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya seharusnya berbeda dari kehidupan yang hanya mengikuti keinginan daging. Kenapa urapan Roh Kudus perlu ada dalam kehidupan kita?

Urapan baru menegaskan kita milik Kristus. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Ini berbicara tentang identitas kita milik Kristus.

1. Roh Kudus menegaskan bahwa kita adalah milik Tuhan.

Roma 8:16, Roh Kudus memberi kesaksian kepada roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Efesus 1:13-14, setelah kita percaya kepada Kristus, kita dimeteraikan dengan Roh Kudus yang menjadi jaminan bagian kita sampai kita memperoleh penebusan sepenuhnya. 2 Timotius 2:19, Efesus 4:30. Wahyu 7:3. Meterai menunjukkan identitas, otoritas, kepemilikan, jaminan.

2 Korintus 1:21-22, Allah memeteraikan kita dan memberikan Roh Kudus dalam hati sebagai jaminan. Roh Kudus menunjukkan identitas kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Roma 8:9 hubungkan dengan ayat 16, kita adalah anak-anak Allah, milik Allah. Roma 8:17, kita juga adalah ahli waris yang berhak menikmati setiap janji-janji Allah--tentang apapun juga-- yang luar biasa.  Seringkali kita melepaskan dan kehilangan identitas kita ketika kita menjalani di dalam dunia ini. Dunia sedang menuju kepada kebinasaan, tapi firman Tuhan katakan jangan lepaskan dan kehilangan identitas kita di hadapan Tuhan.

2. Jangan lepaskan identitas.

Artinya jangan dengan sengaja meninggalkan, melepaskan, atau mengorbankan identitas yang sudah dimiliki. Fokus: pada tindakan--jangan melepaskan identitas. Tujuan: menegaskan sikap untuk tetap berpegang pada jati diri.

Boleh berubah dan berkembang, tetapi jangan sampai perubahan itu membuatmu tidak lagi menjadi dirimu sendiri. Tetap berpegang dan pertahankan jati dirimu, meskipun ada alasan atau tekanan untuk meninggalkannya.

Contoh yang melepaskan, kehilangan identitas di hadapan Tuhan: Esau, Ibrani 12:16-17, Esau menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Jangan menukar identitas dan berkat rohani yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita hanya demi kenyamanan, kesenangan, godaan atau kebutuhan sesaat. Saul, lebih memilih penerimaan manusia daripada ketaatan kepada Tuhan. 1 Samuel 15:22-24. Saul membiarkan tekanan orang lain mempengaruhi ketaatannya. Saul melepaskan identitas ketika hidup berdasarkan apa kata orang bukan berdasarkan apa kata Tuhan. Jangan lepaskan identitas hanya karena supaya diterima oleh lingkungan.

Dalam hidup sehari-hari yang kadang membuat kita melepaskan identitas adalah ketakutan, tekanan, bimbang dan ragu. Firman Tuhan berkata: Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 1 Petrus 5:7. Kata serahkanlah artinya memindahkan beban kita kepada Tuhan, lemparkan bebanmu itu kepada-Ku. Kadang setelah berdoa kita kembali mengambil kekuatiran itu karena kita mau mengendalikan kekuatiran itu. Tapi Tuhan ajarkan serahkan, bukan sekadar menceritakan. Segala kekuatiran: tentang apapun juga. Kepada siapa kita menyerahkan kekuatiran? Kita bisa menceritakan kepada manusia, tapi manusia punya keterbatasan, hanya Tuhan yang sanggup benar-benar memegang hidup kita. 1 Petrus 5:6. Pemilik kita adalah Tuhan yang mempunyai tangan yang kuat yang sanggup melakukan segala sesuatu. Kita dapat serahkan kekuatiran kita pada Tuhan--pemilik kita karena Tuhan peduli terhadap kehidupan kita. Bukan berarti setelah menyerahkan kekuatiran kepada Tuhan, kita tidak perlu melakukan apa-apa, kita tetap berdoa, bekerja, melakukan tanggung jawab tapi kita melakukan tanpa memikul beban karena sudah kita serahkan pada Tuhan. Kita belajar mempercayakan kepada Tuhan pemilik kita.

3. Jangan kehilangan identitas.

Jangan sampai identitasmu hilang atau terkikis, biasanya karena pengaruh lingkungan, perubahan, atau tekanan dari luar. Fokus: pada hasil/keadaan--identitas jangan sampai hilang. Tujuan: mengingatkan agar tetap tahu dan mengenali siapa diri kita. Contoh:

Yudas Iskariot. Matius 26:24, Yudas hidup sangat dekat dengan Tuhan. Tapi hatinya akhirnya dikuasai oleh keserakahan dan memilih mengkhianati Yesus. Artinya kedekatan secara lahiriah dengan Tuhan belum tentu berarti hati kita sungguh-sungguh melekat kepada Tuhan.

Anak yang hilang. Lukas 15:17-18. Anak bungsu ini identitasnya sebagai anak tapi lebih memilih hidup jauh dari bapaknya. Ayat 24, ketika kita kehilangan identitas sebagai anak dengan cara hidup kita dalam keterikatan dosa yang menghilangkan identitas kita di hadapan Tuhan, Tuhan tetap membuka tangan untuk kehadiran anak itu kembali kepada Bapanya.

Biarlah kehidupan kita tidak kehilangan identitas dalam kehidupan sehari-hari. Pencapaian, berkat, zona nyaman bisa membuat kita kehilangan identitas kita sebagai milik Tuhan. Identitas kita sangat jelas di hadapan Tuhan. Ketika menghadapi persoalan sekalipun Dia tetap ada. Jangan lepaskan, jangan hilangkan identitas di hadapan Tuhan.

Amin.