Hidup Dalam Keintiman (Dengan Tuhan) Bukan dalam Perbandingan (Dengan Sesama)

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 14 Juli 2019 Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Yesaya 65:24 -Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya.” Kita hidup berjalan maju, tidak pernah mundur. Tetapi sebelum kita berdoa, sebelum kita berbicara, Tuhan sudah menjawab. Tidak ada yang terlambat bagi Tuhan.

Anugerah dan hikmat Tuhan nyatakan di tengah permasalahan. Kita ditopang oleh firman-Nya yang berkuasa. Dalam hidup kita sering membandingkan diri dengan orang lain, terlebih ada perasaan bahwa kita lebih baik dari yang lain.

2 Korintus 10:12, kita hidup di dunia yang penuh perbandingan. Tetapi setiap kali mendengar firman Allah, taruh hidup kita sesuai firman Allah. Temukan pewahyuan dalam Kristus. Seperti Mordekhai, yang hormat pada raja, tetapi dia tahu kepada siapa dia harus menyembah. 2 Korintus 10:13, Rasul Paulus bergerak sesuai dengan kapasitas ilahi yang Tuhan berikan. Kerjakan dengan maksimal apa yang telah Tuhan taruh sesuai dengan talenta dan karakter kita. Kerjakan sebagai bagian dari penyembahan.

Hikmat Tuhan yang Mempromosikan

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 7 Juli 2019 – Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Ester 6:10. Haman, salah seorang pembesar raja Ahasyweros merasa tersinggung karena Mordekhai yang biasa berada di pintu gerbang istana tidak menyembah ketika ia lewat di situ. Haman—seorang yang insecure (tidak pernah merasa aman)— menyiapkan tiang gantungan untuk menggantung Mordekhai keesokan harinya. Mordekhai berketetapan hati untuk hanya menyembah Tuhan. Ia tidak tahu, tidak sadar nyawanya terancam. Kita aman di tangan Tuhan, hidup kita ada di pengetahuan-Nya Tuhan. Allah setia, kalau Tuhan berfirman, Ia juga akan bertindak mewujudkannya (Maz. 145:13).

Mendengar Yang Benar Menghasilkan Kepercayaan Yang Benar

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 23 Juni 2019 – Oleh Pdt. Andrew M. Assa

Keluaran 19:5,6 - Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel."

Kata ‘sungguh-sungguh’ dalam bahasa aslinya menggunakan kata ‘shama’, kata ‘mendengarkan’ juga menggunakan kata ‘shama’. Tuhan memberi sebuah kepastian jika sungguh-sungguh mendengar (shama shama) dan berpegang pada firman-Nya, kita akan menjadi harta kesayangan Tuhan, menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Hasil mendengar: percaya, apa yang yang kita dengar mempengaruhi pikiran. Ketika kita sungguh-sungguh mendengarkan, akan lebih mudah berpegang, berjalan dalam pimpinan Tuhan. Firman bukan hanya sekadar masalah rohani tapi ketika kita lebih sungguh-sungguh mendengar, membuat sinyal rohani kita lebih peka kepada Tuhan yang empunya bumi/pemilik jagad raya.

Kepada siapa kita lebih peka?

Tuhan Bekerja di Tengah Kemustahilan

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Sore, 30 Juni 2019 - Oleh Pdt. Toni Aris Santoso

Mazmur 30:12-13 - “Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.”

Daud menyaksikan bahwa Tuhan mengubahkan situasi hidupnya. Daud merupakan gambaran pribadi yang memiliki pandangan positif terhadap Tuhan. Dalam kelemahan, Tuhan menjadi sumber kekuatan hidupnya saat dia menghadapi persoalan. Apapun yang dialami, Daud tetap memiliki ucapan syukur dan sukacita.

Mazmur 30:2, Daud yakin Tuhan sanggup melepaskannya dari musuh-musuhnya. Bahkan ayah mertuanya sendiri memusuhinya. Mazmur 30:3, Daud yakin bahwa Tuhan sanggup menyembuhkannya. Mazmur 30:7, Tuhan tidak akan membuatnya goyah menghadapi permasalahan. Tuhan senantiasa menopang kehidupannya. Mazmur 30:11, Daud memiliki keyakinan Tuhan akan selalu tampil menjadi sumber pertolongannya. Mazmur 30:12, Tuhan sanggup mengubahkan kesusahan menjadi sukacita.

Mengalami Pemulihan Demi Pemulihan Bersama Tuhan

Written by Lois.

Ringkasan Khotbah Minggu Pagi, 16 Juni 2019 Oleh Pdt. Peterus Rediwan

Mazmur 126:1-6, “Nyanyian ziarah.  Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai.

Kata "ketika" menunjukkan Allah sudah memulihkan keadaan Sion. Allah menyelamatkan Israel dari Babel. Yeremia 29:10. Generasi yang lahir di Babel sudah menjadi orang buangan. Hak mereka tidak seperti warga asli. Setelah 70 tahun mereka di bawah Babel, mereka tidak pernah berpikir suatu saat akan menjadi orang merdeka. Jauh dari harapan dan bayangan untuk bisa pulang kembali. Ezra 1:1, saat raja Koresh mengumumkan pembebasan ini, ada sukacita yang luar biasa. Mendapat mukjizat yang sama sekali tidak Israel bayangkan. Mazmur 126:2-3, ketika kita mengalami perkara yang besar, mulut kita bersorak-sorai, penuh dengan tawa. Tidak pernah terpikir bahwa semua bisa terjadi. Semua karena kemurahan Tuhan.